Eurax

"Ya Allah...Cukupkanlah sekecil-kecilnya kemampuan yang Aku miliki untuk menghadapi sebesar-besarnya Cobaan dari Engkau.Sesungguhnya Engkau berikan kemudahan di dalam kesulitan."

Data Pengamatan

DATA PENGAMATAN

Pengujian Kadar Pencemaran Air

Tema

Menguji kadar pencemaran air

Alat dan Bahan

  • Gelas Plastik 4 buah
  • Ikan 8 ekor
  • Air Bersih
  • Detergen
  • Baygon Cair
  • Sabun Mandi

Tabel Pengamatan

NO

PERLAKUAN

PENGAMATAN

5'

10'

15'

1

Ikan dalam air bersih

Sehat

Sehat

Sehat

2

Ikan dalam air sabun

1-3 menit = ikan kejang dan mengeluarkan lendir

* 4 menit = ikan mati

mati

mati

3

Ikan dalam air deterjen

* 1-2 menit = Ikan kejang, berlendir & Insang memerah

* 3 menit = Ikan mati

mati

mati

4

Ikan dalam air Baygon

Sehat

Sehat

Sehat


Pembahasan:

Deterjen :

Detergen lebih membuat ikan mati karena bersifat panas. Dalam jangka 1-2 menit ikan akan mengeluarkan lendir.

  • 1-2 menit = ikan mengalami kontrasi mulai dari kejang, berenang miring dan insang berwarna merah tua.
  • 2-3 menit = ikan mati.


Deterjen terbukti merupakan zat pencemar air terbesar, terbukti dengan percobaan ikan.


Sabun Mandi :

Merupakan tercepat kedua setelah deterjen (pencemar terburuk kedua), terbukti dengan percobaan ikan.


Baygon :

Pada percobaan ikan di dalam air baygon ikan dapat bertahan sampai 22 menit dan ikan mati. Ikan dapat bertahan karena baygon tidak dapat secara langsung tercampur pada air bersih melainkan kandungan minyak (baygon) berada di lapisan atas pada air, sehingga tidak secara langsung ikan dapat terkontaminasi oleh zat beracun pada baygon, setelah 16 – 17 menit ikan mengalami kontraksi yaitu :

  • kejang, insang memerah, dan berenang miring ke atas permukaan air.
  • Kurang lebih 20 – 22 menit ikan akan mati karena telah terkontaminasi oleh zat pencemar beracun pada baygon.

Air bersih :

Ikan dapat bertahan hidup karena air belum mengalami pencemaran.

KESIMPULAN

  • Detergen lebih cepat mematikan ikan / kandungan zat-zat kimia yang terkandung didalamnya bersifat pencemar.
  • Kandungan Zat Kimia pada Deterjen
    Dibanding dengan sabun, deterjen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air. Pada umumnya, deterjen mengandung bahan-bahan berikut :
    Surfaktan. Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai ujung berbeda yaitu hidrofil (suka air) dan hidrofob (suka lemak). Surfaktan merupakan zat aktif permukaan yang termasuk bahan kimia organik. Ia memiliki rantai kimia yang sulit didegradasi (diuraikan) alam. Bahan aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan, atau istilah teknisnya, ia berfungsi sebagai emulsifier, bahan pengemulsi.. Zat kimia ini bersifat toksik (beracun) bila dihirup, diserap melalui kulit atau termakan. Secara garis besar, terdapat empat kategori surfaktan yaitu:

    • Anionik :

    • Alkyl Benzene Sulfonate (ABS)

    • Linier Alkyl Benzene Sulfonate (LAS)

    • Alpha Olein Sulfonate (AOS)

    • Kationik : Garam Ammonium

    • Non ionik : Nonyl phenol polyethoxyle

    • Amphoterik : Acyl Ethylenediamines

    Builder. Builder (pembentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan dengan cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air.

    • Fosfat : Sodium Tri Poly Phosphate (STPP)

    • Asetat :

    • Nitril Tri Acetate (NTA)

    • Ethylene Diamine Tetra Acetate (EDTA)

    • Silikat : Zeolit

    • Sitrat : Asam Sitrat

    Filler. Filler (pengisi) adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas. Contohnya Sodium sulfat.

    Aditif. Aditif adalah bahan suplemen / tambahan untuk membuat produk lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dst, tidak berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen. Additives ditambahkan lebih untuk maksud komersialisasi produk. Contohnya Enzim, Boraks, Sodium klorida, Carboxy Methyl Cellulose (CMC)

0 komentar: